Hari Ketiga Ramadhan, Jiwa Mulai Tenang: KMPB Peduli Ajak Umat Perkuat Iman dan Kepedulian

SINARBANUA.COM, BANJARBARU – Memasuki hari ketiga bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, umat Muslim mulai merasakan perubahan yang lebih dalam—bukan hanya pada fisik, tetapi juga pada jiwa dan cara memandang kehidupan. Jika dua hari pertama menjadi fase adaptasi, maka hari ketiga adalah titik awal ketenangan mulai tumbuh dan ritme ibadah semakin terjaga.

Ketua Kelompok Masyarakat Pemerhati Banua (KMPB) Peduli, Bahauddin, Jumat malam (20/2/2026), menyampaikan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan proses penyucian diri yang bertahap namun pasti.

“Di hari ketiga, biasanya hati mulai lebih stabil. Emosi lebih terkendali, pikiran lebih jernih, dan ibadah terasa lebih khusyuk. Ini momentum penting untuk meningkatkan kualitas ketakwaan,” ujarnya.

🌙 Spiritualitas yang Menguat

Ramadhan adalah madrasah kehidupan. Pada hari ketiga, seseorang mulai terbiasa menahan hawa nafsu—baik lisan, pandangan, maupun perbuatan. Dari sinilah kesabaran ditempa dan karakter dibentuk.

Setiap amal kebaikan di bulan suci ini dilipatgandakan pahalanya. Puasa menjadi jalan untuk menghapus dosa-dosa kecil, sekaligus memperbanyak amal saleh. Rasa lapar yang dirasakan pun bukan sekadar ujian, tetapi jembatan empati—mengingatkan kita pada saudara-saudara yang hidup dalam keterbatasan setiap hari.

“Ramadhan mengajarkan kita untuk tidak hanya kuat secara pribadi, tetapi juga peka terhadap kondisi sosial di sekitar,” tambah Bahauddin.

💚 Tubuh Mulai Beradaptasi

Dari sisi kesehatan, memasuki hari ketiga, tubuh mulai menyesuaikan diri dengan pola makan sahur dan berbuka. Cadangan energi dari lemak mulai digunakan, membantu proses detoksifikasi alami. Sistem pencernaan pun memperoleh waktu istirahat yang cukup setelah sebelas bulan bekerja tanpa jeda panjang.

Pola makan yang lebih teratur saat sahur dan berbuka juga berkontribusi dalam menjaga stabilitas gula darah serta memperbaiki metabolisme. Tubuh terasa lebih ringan, pikiran lebih fokus, dan ritme harian menjadi lebih disiplin.

Hari ketiga puasa sering menjadi titik balik—di mana rasa berat perlahan berubah menjadi kekuatan, dan kebiasaan mulai menjadi kebutuhan.

Ramadhan bukan hanya tentang menahan, tetapi tentang membangun. Membangun ketakwaan, memperkuat kesabaran, menumbuhkan empati, serta menyehatkan raga.

Semoga setiap detik puasa yang kita jalani menjadi ladang pahala, membersihkan hati, dan mengantarkan kita pada Ramadhan yang penuh berkah serta diterima Allah SWT. (SB)