HRB Bantu Tiga Sumur Bor untuk Perkuat Penanggulangan Karhutla

Bantuan tiga titik sumur bor mendukung ketersediaan air untuk penanganan awal dan pemadaman kebakaran pada kawasan lahan gambut Kurnia Gunung Damar, Banjarbaru.

KALIMANTAN SELATAN, 11 SEPTEMBER 2026

PT HRB Peduli Karhutla di Kalimantan Selatan, Jum’at (11/09/2026) / Direktur PT Hutan Rindang Banua Nurhadi Purwanto bersama Direktur Pengendalian Kebakaran Lahan KLH/BPLH Dasrul Caniago dan jajaran saat meninjau fasilitas sumur bor untuk kesiapsiagaan karhutla.

sinarbanua.com; KALSEL | PT HUTAN Rindang Banua (HRB) memberikan bantuan berupa pembangunan tiga titik sumur bor sebagai bagian dari upaya memperkuat sarana pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ketiga sumur bor tersebut dipersiapkan untuk mendukung ketersediaan sumber air bagi penanganan awal dan pemadaman apabila ditemukan titik api di kawasan lahan gambut Kurnia Gunung Damar, Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Penyerahan bantuan tersebut dihadiri Direktur PT Hutan Rindang Banua Nurhadi Purwanto, M.M. bersama Direktur Pengendalian Kebakaran Lahan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Drs. Dasrul Caniago, M.M., M.E., M.H. Kehadiran unsur pemerintah, perusahaan, petugas lapangan, dan masyarakat menunjukkan pentingnya kerja sama sejak tahap pencegahan hingga penanggulangan karhutla.

Direktur PT Hutan Rindang Banua Nurhadi Purwanto, M.M. menjelaskan bahwa bantuan pembangunan tiga sumur bor merupakan bentuk dukungan perusahaan untuk memperkuat ketersediaan air di kawasan lahan gambut Kurnia Gunung Damar. Sumber air yang lebih dekat diharapkan membantu petugas melakukan penanganan awal dan pemadaman secara lebih cepat, terutama pada musim kemarau ketika risiko kebakaran meningkat.

Fasilitas sumur bor tersebut diharapkan melengkapi kesiapan personel dan peralatanpengendalian karhutla di Gunung Damar. Agar selalu siap digunakan, fasilitas perlu diperiksa, diuji, dan dipelihara secara berkala serta diintegrasikan dengan kesiapan petugas di lapangan.

Direktur Pengendalian Kebakaran Lahan KLH/BPLH Drs. Dasrul Caniago, M.M., M.E., M.H. menekankan pentingnya upaya pencegahan sebelum kebakaran meluas. Dukungan sarana air, kesiapan personel, pemantauan kondisi lapangan, serta keterlibatan masyarakat merupakan unsur penting dalam membangun sistem pengendalian karhutla yang efektif.

Selain memberikan bantuan pembangunan sumur bor, HRB juga menyerahkan bantuan suplemen untuk mendukung kebugaran personel pengendalian karhutla. Dukungan tersebut merupakan bentuk perhatian perusahaan terhadap kesiapan petugas yang bekerja di lapangan dalam kondisi cuaca panas dan medan yang tidak selalu mudah.

Melalui bantuan tiga titik sumur bor ini, HRB berharap ketersediaan air untuk penanganan awal dan pemadaman kebakaran di kawasan lahan gambut Kurnia Gunung Damar semakin memadai. Bantuan tersebut ditujukan untuk mendukung kepentingan masyarakat dan kesiapsiagaan petugas dalam menghadapi ancaman kebakaran pada musim kemarau. Masyarakat juga diimbau tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar serta segera melapor kepada petugas apabila menemukan asap atau titik api.

Pencegahan kebakaran hutan dan lahan tidak dapat menunggu sampai api muncul. Berangkat dari kebutuhan tersebut, PT Hutan Rindang Banua (HRB) memberikan bantuan pembangunan tiga titik sumur bor guna memperkuat ketersediaan air untuk penanganan awal dan pemadaman kebakaran pada kawasan lahan gambut Kurnia Gunung Damar, Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Penyerahan bantuan ini melibatkan unsur perusahaan, pemerintah, personel lapangan, dan masyarakat. Direktur PT Hutan Rindang Banua Nurhadi Purwanto, M.M. dan Direktur Pengendalian Kebakaran Lahan KLH/BPLH Drs. Dasrul Caniago, M.M., M.E., M.H. hadir bersama jajaran untuk meninjau kesiapan fasilitas dan pemanfaatannya dalam mendukung pengendalian karhutla.

Tiga titik sumur bor tersebut menjadi sumber air pendukung bagi kawasan lahan gambut Kurnia Gunung Damar yang menghadapi peningkatan risiko kebakaran pada musim kemarau. Ketersediaan sumber air yang lebih dekat diharapkan mempercepat pembasahan lahan, penanganan awal titik api, dan proses pemadaman apabila terjadi kebakaran.

Nurhadi Purwanto, M.M. menyampaikan bahwa bantuan pembangunan sumur bor merupakan wujud kepedulian perusahaan terhadap perlindungan lingkungan dan keselamatan masyarakat. Keberadaan fasilitas tersebut perlu didukung dengan pemeriksaan sarana, kesiapan pompa dan selang, kesiagaan personel, serta koordinasi yang kuat antara pemerintah, petugas, dan masyarakat sekitar.

Dari sisi pemerintah, Drs. Dasrul Caniago, M.M., M.E., M.H. mendorong agar sarana pengendalian karhutla benar-benar dipastikan berfungsi saat dibutuhkan. Pemeriksaan berkala, simulasi penggunaan, kejelasan penanggung jawab, dan akses yang mudah menuju sumber air menjadi faktor yang menentukan efektivitas fasilitas di lapangan.

Kegiatan tersebut juga disertai penyerahan bantuan suplemen dari HRB untuk mendukung kondisi fisik personel pengendalian karhutla. Kesiapan sumber daya manusia dinilai sama pentingnya dengan ketersediaan peralatan karena respons lapangan membutuhkan petugas yang terlatih, sehat, dan mampu bekerja secara cepat.

Kolaborasi ini diharapkan memperkuat pencegahan dan penanggulangan kebakaran lahan pada musim kemarau. Bantuan tiga titik sumur bor dari PT Hutan Rindang Banua ditujukan untuk mendukung ketersediaan air bagi kegiatan penanganan awal dan pemadaman kebakaran di kawasan lahan gambut Kurnia Gunung Damar, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Fasilitas tersebut diharapkan bermanfaat bagi masyarakat sekaligus memperkuat kesiapsiagaan petugas. Masyarakat juga diimbau tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar, tetap menjaga lingkungan, serta segera menyampaikan informasi kepada petugas apabila menemukan asap, titik api, atau tanda-tanda kebakaran.

HRB berharap bantuan tersebut dapat dijaga dan dimanfaatkan secara berkelanjutan melalui koordinasi antara pemerintah, petugas, dan masyarakat. Ketersediaan air serta kepedulian bersama menjadi bagian penting dalam melindungi lahan gambut, menjaga kualitas udara, dan mengurangi dampak kebakaran terhadap kehidupan masyarakat.

Jurnalis: Wiji; red TIM